
Sayang, rupanya setiap musim dingin lembah Engtal tertutup utk turis dan kendaraan. Krn biasanya ada banyak salju dan terkadang ada reruntuhan bebatuan krn tumpukan salju.Utk menghindari hal² yg tdk diinginkan oleh krn itu mereka menutup tempat ini, tetapi masih bisa dijelajahi dgn berjalan kaki. Jika ingin melihat pojokan lembah hrs jalan cukup jauh, sedangkan cuaca saat ini masih sgt dingiiin brrr....brrr... Kita diskusi sebentar dan keputusannya adalah cabut dari lembah Engtal, hiks..hiks.....see...u next time Engtal.

Saat melalui perbatasan jerman-Austria, kita melewati sebuah jembatan besi yg dibawahnya mengalir sungai kecil ttp aliran airnya cukup deras dan berbatu. Dahulu disini terdapat pos penjaga perbatasan, tetapi krn peraturan sdh berubah jadinya disetiap negara Schengen tdk ada lagi pos² penjagaan. Ah...ya, dimusim summer biasanya disungai ini byk dikunjungi oleh para pecinta kano-adventure.

Akhirnya kita banting setir agak membelok kearah Bayern bag tengah-selatan menuju Staudam- bendungan air Sylventstein ( bisa juga klik disini ). Rupanya air didlm bendungan sedang membeku, sesekali terdengar bunyi pecahan es krn tertimpa sinar matahari. Kalau saya perhatikan niiih...kebanyakan danau alami tdk mudah membeku, mungkin krn mereka mempunyai mata air yg selalu mengalir. Sedangkan kalau danau buatan biasanya mudah membeku.
Setelah puas jalan disepanjang bendungan, kemudian kita menuju Walchensee, danau alami yg sangat luas, indah dan sgt dalam. Perlu diketahui bhw banyak danau alami di negara Jerman sgt dilindungi, dimana di danau ini tdk boleh dilalui perahu boot bermesin maksudnya utk menjaga kejernihan dan kebersihan air (terutama danau² yg terletak di sekitar pegunungan Alpen).

Dari situ lalu kita menuju ke lembah Isartal. Dahulu saat main kesini saya merasa seperti berada di Kanada (padahal blom pernah main ke sana siyy ) krn disekitar saya hanya pegunungan berbatu, hutan pinus serta sungai yg lebar tdk dalam dan berair jernih. Sayang krn ulah dari badai topan Kryll tahun yg lalu, banyak pohon yg tumbang dan menyebabkan erosi. Tetapi walaupun demikian pemdangan disini tetap menarik apalagi disekitar masih banyak tumpukan salju. Cukup lama kita berada diatas sebuah jembatan kayu tua sambil menikmati alam di Isartal. Yg tdk diduga adalah ada sebuah mobil yg parkir disamping mobil kita yg ternyata juga berasal dari Osnabrück...ternyata dunia itu hanya selebar daun kelor.

Hari menjelang petang, perut kitapun mulai terasa melilit minta diisi. Berhubung kita berada didaerah pegunungan, rasanya tidak mudah utk menemukan resto yg buka disiang hari (biasanya diakhir musim winter agak susah utk mendptkan resto yg buka). Uwe menjalankan mobil kearah negara Austria, tepatnya menuju danau Achensee krn tempat tersebut adalah tempat kunjungan turis, kemungkinan besar kita bisa menemukan resto yg buka. Saya memang pernah bbrp kali melewati daerah ini tetapi tdk pernah berhenti utk melihat danau ini secara dekat, ternyata danau Achensee juga sangat indah, tempat yg bagus utk liburan bersama keluarga.
Kita duduk cukup lama di teras sebuah resto, asyik menikmati pemandangan alam yg indah ini sambil sesekali berdiskusi ttg liburan yg telah kita lalui. Uwe agak kuciwa krn banyak lokasi wisata yg ditutup dikarenakan salju yg mencair selain itu entah kenapa mata uwe sering terserang perih, hal ini sgt mengganggu konsentrasinya ketika menyetir kendaraan. Sedangkan saya dan thomas cukup puas dgn liburan bersama ini.

Malam harinya kita pergi ke daerah Wallgau menuju hotel Post utk makan malam disana sekaligus uwe ingin bernostalgia, mengenang masa kecilnya yg sering liburan didaerah ini dan makan di resto ini.
Keine Kommentare:
Kommentar veröffentlichen