
Sabtu pagi itu saya bangun seperti biasa, cuaca hari itu kurang bersahabat, awan kelabu datang silih berganti. Sang tuan rumah masih tertidur pulas maklum semalam mereka bertiga asyik nonton film dan bincang². Setelah badan segar, saya menghangatkan nasi rames yg saya beli kemarin pagi dari toko joyce. Di toko itu saya sempat membeli bbrp barang, misalnya bumbu pecel karang sari, sambal abc dan permen kopiko dgn 2 rasa. Saya tdk membeli banyak brg krn produk yg dijual tdk saya kenal. Rasa nasi ramesnya lumayan deh, apalagi ada sayur urabnya. 1 Porsi harganya kira² € 8, kita bisa memilih jenis masakan yg akan kita campur (pilihannya cukup banyak).

So....setelah tuan rumah bangun tidur, ngopi dan sedikit ngobs, akhirnya kita ber 5 berangkat menuju Bazaar - Beverwijk. Kota Beverwijk terletak di bag utara barat Amsterdam, kira² 27 km dari rumahnya susan atau 10 km dari kota Haarlem. Kali ini yg menjadi supir dan guide adalah daan. Enak juga loh kalau jalan² di belanda ditemani oleh org belandanya, jadi terkadang kita mendapatkan informasi yg detail ttg suatu hal. Saya sebenarnya tdk punya gambaran ttg Bazaar ini, hanya sedikit cerita dari susan ttg bumbu² yg dia beli di tempat tersebut. Makanya saya agak sedikit khawatir bhw brg² yg saya cari atau pesanan dari teman tdk bisa saya temukan tetapi disisi lain saya penasaran dgn isi dari Bazaar ini.


Kita membeli tiket masuk seharga € 2/ org. Acara pertama kita memasuki sebuah bangunan berwarna merah yg bernama china town. Disini banyak terdapat kios² brg elektronik, agak² mirip glodok deh tp dlm porsi kecil. Saya tdk mengenal merk produk yg dijual di bagian ini, mungkin brg impor dari china. Lalu ada bagian manicure dan pedicure yg jumlah kiosnya banyak sekali. Ada yg menjual baju² china dgn warna²nya yg kuat, celana jeans, samurai, patung² dari kayu, dll. Pokoke bangunan ini dikuasai oleh org asia....terang saza namanya juga china town. Ah ya, saya tdk mengambil foto² disini krn menurut saya situasinya tdk menarik.
Dibagian belakang terdapat kios² makan ato biasa disebut food-court, kebanyakan sih makanan asia (vietnam, chinese, thai) tetapi ada juga masakan suriname (wajahnya mirip org Indo) serta sebuah kios masakan arab. Suasananya agak mirip pasar malam Den Haag. Uwe memesan masakan chinese sedangakan susan, daan serta nicolet memesan falafel. Klo saya tdk memesan apa² krn dirumah sudah sarapan nasi rames.



Dari situ acara lanjut menuju asia supermarket. Saya diolok-olok oleh uwe dan susan krn katanya irama jalan saya kok menjadi cepat dan mata saya katanya berbinar².....syebel deh. Bentuk asia s'market ini cukup besar kira² 2x dari asia shop di kota saya. Saya langsung mencari brg² yg saya butuhkan. Alhamdulilah.....saya menemukan tempe segar, pete segar, pop mie cup, emping fina (ada bbrp jenis emping loh), ting-ting gepuk, keripik pisang sudiro, keripik singkong kusuka, kecap cap bango di botol besar, kemiri, dll deh. Pokoke produk Indo yg dijual disini cukup banyak. Sayang....sambal terasi dan bumbu rendang cap ibu tidak bisa saya temukan. Sebagian besar brg² yg di jual di TI ada di supermarket ini dan harganya lebih miring loh. Didepan supermarket ada kios yg menjual kue² basah, bahkan nasi uduk dan nasi kuning. Saking senangnya saya tidak ingat utk memoto situasi ini. Akhinya kereta belanjaan menjadi penuh oleh brg² kami berlima. Setelah itu kita memutuskan utk membawa belanjaan tersebut ke mobil dan nanti masuk kembali dgn cara distempel di bag tangan (mirip stempel dufan).



Kemudian acara lanjut dgn masuk ke bangunan yg sepertinya menjual sayuran dan buah segar. Saat masuk kesana saya jadi teringat pasar tradisional di Indo, ada banyak sayuran dan buah segar dipajang secara menarik. Sang penjual sesekali berterik menawarkan dagangannya. Hati tergelitik utk membelinya tetapi saya putuskan nanti saja. Dari situ kita lanjut menuju daerah bumbu halus. Kita sdh bisa mencium aroma yg tersebar diudara....aroma bumbu dari berbagai jenis terutama yg aromanya mirip² masakan timur tengah atau negara afrika. Saya menyukai suasana disini, sepertinya saya tidak berada di negara belanda, melainkan disebuah negara lain. Ada banyak bahan makan yg dijual mulai dari kacang²an, buah olive dgn berbagai rasa, buah²an yg dikeringkan, bumbu halus dgn berbagai warna, resto² shoarma, bakerie yg menjual roti org arab serta dessert-nya org arab, apalagi kalau bukan baklava.


Saya sempat mencoba baklava ini, rasanya enak tdk terlalu manis (sebenarnya memang manis krn bahan utamanya adalah madu). Dahulu saya pernah membeli baklava disebuah Mall tetapi saya tdk menyukai. Baru kali ini saya menyukai dessert yg satu ini apalagi pilihannya ada banyak selain itu masih fresh. Cukup lama kita putar² disekitar tempat ini, setelah capek akhirnya kita masuk ke sebuah kedai kopi dan meminum kopi yg cukup harum dan enak (ealaaah...kok saya jadi peminum kopi sih yah). Andai saja perut saya kosong, ingin rasanya saya mencoba makan shoarma di bazaar ini, aromanya benar² menggoda. Di Bazaar saya sempat membeli beberapa bumbu halus yg tdk bisa saya dapatkan di kota tempat saya tinggal, sekantung jeruk mandarin dan seporsi buah olive.
Setelah itu kita lanjut ke gedung sebelah dimana disini banyak dijual benda² yg berbau arab, misalnya baju², sajadah, mandolin, shisha, piring² keramik besar dgn motif afrika/arab, nampan, dll. Tadinya kita ingin keluar menuju mobil tetapi rupanya diluar sana hujan turun dgn derasnya. Akhirnya kita masuk kembali sambil putar sana sini hingga akhirnya landas disebuah resto utk minum kopi lagi krn uwe ingin sekali mencoba kopinya org turki. Pelayannya berpakaian ala ali baba dan bersikap ramah serta lutcu, dia menjamin bhw kopi mereka asli turki (memangnya di turki ada pohon kopi ya ?? ). Memang sih...menurut sejarah, org turki lah yg memperkenalkan kopi kpd bangsa eropa. Tetapi kalau dibandingkan dari rasa, menurut saya kopi di kios pertama lebih enak dan lebih wanggi dari pada di resto ini.
Akhirnya.....setelah kaki dan badan terasa pegal kita memutuskan utk pulang ke rumah....see u next time Bazaar......


Hari Minggunya kami jalan² ke sebuah tempat yg bernama Vinkeveen, kira² 10 km dari Amsterdam, dimana disini kebanyakan rumah dibangun diatas air. Saya tdk bisa membayangkan bagaimana jika air laut pasang apakah rumah dan halaman akan terendam air atau tidak. Malahan ada beberapa rumah (mungkin rumah tua) yg pondasinya sudah miring seperti kebanyakan banguna tua di kota Amsterdam. Selain itu di Vinkelveen ini ternyata banyak dibangun rumah² luxus yg designnya agak berbeda dgn kebanyakan rumah² di Holland. Hari itu kita agak cepat kembali ke rumah krn malam harinya kita akan main ke Amsterdam city utk mengundang susan serta daan makan malam di resto Thai yg bernama Kooning vaan Siam.
Malam hari kita main ke Amsterdam city, sempat putar² sebentar didaerah red light. Rupanya malam itu masih cukup banyka turis yg berkunjung disini. Kalau saya bandingkan rupanya daerah red light ini lokasinya sdh mulai berkurang, tdk ramai seperti dahulu. Beberapa aquarium (ruang kecil berkaca) mulai terisi wanita berpakaian minim. Banyak turis terutama kaum adam yg melihat atraksi tersebut, ada yg tertawa nakal, tersenyum, diskusi dan lainnya. Jujur saja...didlm hati ini agak miris saat melihat wanita tersebut. Rupanya hari Minggu resto yg akan menjadi tujuan kita sedang tutup. Setelah putar sana-sini dan bertanya kpd bbrp turis yg keluar dari sebuah resto, akhirnya kita memutuskan masuk ke resto thai yg bernama Bird. Menurut saya rasa masakan resto thai ini agak lebih enak dari pada resto thai Dynasty. Jika kalian suka masakan thai, resto ini patut anda coba.




































































Berhubung kita masih mempunyai waktu beberapa jam sebelum acara konser dimulai, kita berusaha mencari letak gedungnya. Krn merasa yakin tahu dimana letaknya, lalu kita berjalan tanpa menggunakan peta hingga akhirnya terdampar di gang atau jalan yg bernama "Schnoor". Awalnya daerah ini terlihat biasa² saja tetapi ada yg menarik krn warna² dari rumah itu cukup berani, mulai dari warna ungu tua, biru tua, hijau tua, demikian juga dgn warna² dari kotak pos disetiap rumah juga warna yg nge-jreng. Hingga disuatu sudut kita melihat sebuah gang yg sempit, jika dilihat agak² mirip dgn gang yg ada diperkampungan Jakarta.



