Samstag, 22. März 2008

Mittenwald - hari ke V

Hari itu kira² jam 7 pagi saya memutuskan utk pergi ke atas bukit sendirian krn yayangku masih ngantuk, demikian juga dgn thomas. Agak takut juga seeeh jalan sendirian dihutan tp saya tahu bhw daerah ini cukup aman. Saya jalan perlahan menikmati cuaca pagi yg sangat dingin dan segar. Tujuan saya pagi itu adalah air sungai kecil berundak agak mirip air terjun dibawah bukit lembah "Laintal " (bisa klik website ini utk melihat gambarnya ). Entah kenapa saya sangat suka melihat air jernih yg mengalir apalagi kalau mendengar suara cipratannya yg indah (bukan air bah yg sedang mengamuk ya...). Lagi² saya tdk mau membawa kamera, beraat bow...jalan ke atas bukit dgn bawa beginian. Aliran air sungai ini berasal dari danau Lautersee yg mengalir ke bawah menuju kota Mittenwald . Tepat jam 8:30 saya sdh berada dihotel, mandi sebentar lalu berjalan menuju ruang sarapan. Thomas datang agak telat krn rupanya dia juga melakukan olahraga pagi. Kata dia, sayang...pemandangan alam yg indah ini kalau dibiarkan begitu saja diatas tempat tidur.

"Linderhof "


So hari ini ceritanya kita ingin melihat kastil Linderhof yg terletak didaerah Ettal. Saat sarapan pagi kita mendengar berita diradio bhw rayap menyerang karpet serta gardin antik yg ada didlm kastil ini. Jadinya banyak brg² didlm museum yg harus dikeluarkan dari dlm kastil utk dibersihkan dan direstorasi. Kastil Linderhof ini dibangun oleh raja Ludwig II ( 1864-1886 ) sebagai tempat tinggal beliau yg sebenarnya ( tentu saja selain kastil² yg lain). Bentuk kastil Linderhof agak mirip sebuah villa cantik, lebih kecil dari kastil Neuschwanstein tetapi halamannya sangat luaaaaas sekali dan pemandangan sekitarnya jangan ditanya deh.

Saya yakin dimusim summer terlihat sangat indah terutama halamannya yg ada taman mawar, air mancur, kolam ikan dan angsa² liar (binatang kesayangan raja Ludwig), dan patung² antik ( klo winter mereka ditutup dgn kotak kayu spy tdk rusak ). Menurut cerita sang guide, katanya raja Ludwig sempat tinggal selama 7 tahun didlm kastil ini hingga akhir usia beliau sebelum meninggal krn kecelakaan. Sayangnya didlm kastil kita tdk boleh membuat foto atau film (copy right hanya milik mereka- bisa dgn membeli buku, kartu pos atau sejenisnya ditoko cenderamata yg ada diloket pembelian karcis masuk). Kalian bisa juga meng-klik judul diatas utk melihat bag dalam dari kastil ini . Ada beberapa inspirasi design dari raja Ludwig yg menurut saya sangat menarik, terutama dgn design kaca berbingkai didlm kamar tidur beliau.


Hotel Linderhof


Jika yang ingin beromantis ria sambil menikmati ketenangan dan kecantikan alam pegunungan bisa menginap disebuah hotel yg letaknya tdk jauh dari kastil ini, yaitu "hotel Linderhof" . Bangunan hotel ini adalah bangunan antik, merupakan bagian dari kastil Linderhof. Dahulu bangunan ini digunakan sebagai tempat tinggal para pengurus/pelayan kastil.


Siapa yang tidak kenal kastil ala negeri dongeng ini ? setiap turis yg datang ke Bayern biasanya selalu mampir kesini, yg terletak di kota Füssen. Dari kejauhan kita sdh bisa melihat bangunan ini berdiri kokoh dipinggir sebuah bukit berbatu. Kastil ini dibangun oleh raja Ludwig II, yg memang senang dgn seni dan keindahan. Banyak design didlm kastil² milik beliau yg terinspirasi dari kastil² negara P'cis, dimana beliau sering diundang oleh raja² dari negeri tersebut.
Mobil hrs diparkir di bawah dan setelah itu kita jalan agak mendaki menuju bangunan tempat menjual karcis masuk ke dlm kastil. Saya dan uwe tdk tertarik utk masuk ke dlm kastil krn sdh pernah demikian juga thomas. So...akhrinya kita tdk jadi membeli karcis tetapi tetap ingin naik ke atas bukit tempat kastil berdiri.


Berhubung sejak pagi hari kita sdh berolah raga yg cukup, lalu kita memutuskan utk naik kereta kuda ke atas bukit nanti turunnya jalan kaki. Sebenarnya utk naik ke sana bisa jalan kaki, naik kereta kuda atau naik bis (klo winter jarang ada yg naik ke atas). Utk naik kereta kuda kita juga hrs menunggu keretanya sampai penuh. So...akhirnya jalan juga kuda² ini. Ah ya, ada pengalaman yg kurang menarik dgn naik kereta ini krn terkadang ditengah jalan sang kuda tiba² berhenti utk membuang hajatnya. Berhubung kita duduk di depan (samping pak kusir) jadi kita bisa melihat dgn jelas dan bisa mencium aromanya (tp bau tersebut cepat menghilang krn setelah itu sang kuda jalan kembali). Untungnya kita sdh di beritahu oleh sang kusir ttg hal ini jadi saya bisa membuang muka saat mereka buang hajat...baaahhhhh.....dasaaarrrr....kuda....
Akhirnya sampai juga kita di stasiun pemberhentian, dari situ hrs berjalan lumayan jauh ke atas bukit, itung² olah raga deh. Apalagi nanti kita bisa melihat pemandangan yg cukup indah, rasanya jalan ngos-ngosan keatas bukit ini tidak sia².



Setelah jepret² di sekitar halaman kastil lalu saya jepret ke arah jembatan "Marienbrücke" nun jauh diseberang sana. Baru deh kemudian kita keluar dari halaman kastil menuju ke arah jembatan Marienbrücke. Dari jembatan ini kita bisa mengambil foto dgn latar belakang kastil Neuschwanstein.



Diatas jembatan ini biasanya suka ada seorg penjaga yg berpakaian tradisional daerah Bayern. Dibawah jembatan kita bisa melihat air terjun yg dibawahnya terlihat berwarna kehijauan. Jembatan ini pertama kali dibangun dgn bahan baku utama dari metal yaitu saat pemerintahan Raja Ludwig II, baru kemudian thn 1984 direstorasi . Tinggi jembatan ini kira² 100 meter. Jika ingin melihat panorama 360° dari Marienbrücke coba klik

disini .



Rencananya utk turun dari bukit ini nanti kita ingin jalan melalu sebuah jurang yg bernama
Pöllatschlucht. Kira² thn 2003 saya dan uwe pernah berjalan di sepanjang "schlucht" ini, pemandangannya benar² mengagumkan, melihat air terjun dari bawah dgn aliran sungai yg cukup deras dan jembatan yg menempel di gunung berbatu, benar² adventure.

Jalan menuju Pöllatschlucht



3 thn yg lalu ketika mama dan adik ada disini (thn 2005), saya juga membawa mereka melalui jurang ini, sayangnya pemandangan sdh agak berubah krn pengaruh banjir besar. Batu² sebesar gajah yg dahulunya tersusun rapi ( krn proses alami ) sdh menjadi porak poranda. Tetapi saya tetap menyukai jalan² disekitar sini.


Sayang seribu sayang, rupanya hari itu hari sial kita. Ternyata jalan kearah Pöllatschlucht ditutup dikarenakan ice yg mencair serta reruntuhan bebatuan. Jika tetap membandel, segala bahaya hrs ditanggung sendiri. Yaaah....mau dibilang apa, jadinya kita mencari jalur turun yg lain bukan jalan beraspal tempat bis atau kereta kuda lewat tetapi jalan tanah yg pemandangannya lebih menarik. Dari sini nanti kita bisa melihat kastil /Schloss Hohenschwangau dgn cukup jelas (jika ingin mengambil foto).






Dienstag, 18. März 2008

Mitenwald IV - Engtal and around


Rencana hari ini adalah kita ingin sedikit bermalasan krn kemarin sudah melihat pemandangan yg spektakuler di Zugspitze. Kita santai menikmati sarapan pagi sambil melihat pemandangan gunung Karwendel diluar sana dan juga menikmati sinar matahari pagi ( sehat loooh...krn membantu darah memproduksi vit.D). Setelah sarapan kita ingin berkunjung ke lembah "Engtal" yg terletak dinegara Austria. Waktu musim gugur bbrp thn yg lalu saya pernah main ke lembah ini, pemandangannya sangat indah apalagi disekitar lembah berkeliaran banyak sapi² milik petani yg sengaja diletakkan disana utk merumput . Sapi² ini berkeliaran dgn bebas, tdk ada kandangnya jadi klo mengendarai mobil hrs pelan² dan hati² (antara Juni-Oktober). Dileher sapi bergantung sebuah lonceng yg cukup besar. Bisa anda bayangkan deh suasana dilembah yg sunyi dgn pemandangan yg indah dan diiring alunan lonceng² dari kalung hewan yg berkeliaran disekitar sini, mirip alunan gamelan tapi ber-echo (krn pantulan dari batu² gunung). Ah...ya selain itu di lembah Engtal ini banyak berdiri pohon Maple tua (umurnya ratusan tahun). Tips: klo mo main kesini jangan dimusim summer, lebih baik musim gugur krn tdk terlalu banyak turis.

Sayang, rupanya setiap musim dingin lembah Engtal tertutup utk turis dan kendaraan. Krn biasanya ada banyak salju dan terkadang ada reruntuhan bebatuan krn tumpukan salju.Utk menghindari hal² yg tdk diinginkan oleh krn itu mereka menutup tempat ini, tetapi masih bisa dijelajahi dgn berjalan kaki. Jika ingin melihat pojokan lembah hrs jalan cukup jauh, sedangkan cuaca saat ini masih sgt dingiiin brrr....brrr... Kita diskusi sebentar dan keputusannya adalah cabut dari lembah Engtal, hiks..hiks.....see...u next time Engtal.


Saat melalui perbatasan jerman-Austria, kita melewati sebuah jembatan besi yg dibawahnya mengalir sungai kecil ttp aliran airnya cukup deras dan berbatu. Dahulu disini terdapat pos penjaga perbatasan, tetapi krn peraturan sdh berubah jadinya disetiap negara Schengen tdk ada lagi pos² penjagaan. Ah...ya, dimusim summer biasanya disungai ini byk dikunjungi oleh para pecinta kano-adventure.


Akhirnya kita banting setir agak membelok kearah Bayern bag tengah-selatan menuju Staudam- bendungan air
Sylventstein ( bisa juga klik disini ). Rupanya air didlm bendungan sedang membeku, sesekali terdengar bunyi pecahan es krn tertimpa sinar matahari. Kalau saya perhatikan niiih...kebanyakan danau alami tdk mudah membeku, mungkin krn mereka mempunyai mata air yg selalu mengalir. Sedangkan kalau danau buatan biasanya mudah membeku.


Setelah puas jalan disepanjang bendungan, kemudian kita menuju
Walchensee, danau alami yg sangat luas, indah dan sgt dalam. Perlu diketahui bhw banyak danau alami di negara Jerman sgt dilindungi, dimana di danau ini tdk boleh dilalui perahu boot bermesin maksudnya utk menjaga kejernihan dan kebersihan air (terutama danau² yg terletak di sekitar pegunungan Alpen).



Dari situ lalu kita menuju ke lembah Isartal. Dahulu saat main kesini saya merasa seperti berada di Kanada (padahal blom pernah main ke sana siyy ) krn disekitar saya hanya pegunungan berbatu, hutan pinus serta sungai yg lebar tdk dalam dan berair jernih. Sayang krn ulah dari badai topan Kryll tahun yg lalu, banyak pohon yg tumbang dan menyebabkan erosi. Tetapi walaupun demikian pemdangan disini tetap menarik apalagi disekitar masih banyak tumpukan salju. Cukup lama kita berada diatas sebuah jembatan kayu tua sambil menikmati alam di Isartal. Yg tdk diduga adalah ada sebuah mobil yg parkir disamping mobil kita yg ternyata juga berasal dari Osnabrück...ternyata dunia itu hanya selebar daun kelor.



Hari menjelang petang, perut kitapun mulai terasa melilit minta diisi. Berhubung kita berada didaerah pegunungan, rasanya tidak mudah utk menemukan resto yg buka disiang hari (biasanya diakhir musim winter agak susah utk mendptkan resto yg buka). Uwe menjalankan mobil kearah negara Austria, tepatnya menuju danau Achensee krn tempat tersebut adalah tempat kunjungan turis, kemungkinan besar kita bisa menemukan resto yg buka. Saya memang pernah bbrp kali melewati daerah ini tetapi tdk pernah berhenti utk melihat danau ini secara dekat, ternyata danau Achensee juga sangat indah, tempat yg bagus utk liburan bersama keluarga.

Kita duduk cukup lama di teras sebuah resto, asyik menikmati pemandangan alam yg indah ini sambil sesekali berdiskusi ttg liburan yg telah kita lalui. Uwe agak kuciwa krn banyak lokasi wisata yg ditutup dikarenakan salju yg mencair selain itu entah kenapa mata uwe sering terserang perih, hal ini sgt mengganggu konsentrasinya ketika menyetir kendaraan. Sedangkan saya dan thomas cukup puas dgn liburan bersama ini.


Malam harinya kita pergi ke daerah Wallgau menuju hotel Post utk makan malam disana sekaligus uwe ingin bernostalgia, mengenang masa kecilnya yg sering liburan didaerah ini dan makan di resto ini.






Montag, 10. März 2008

Mittenwald - hari III


Seperti yg saya janjikan pagi² sekali saya sdh siap utk wandern demikian juga uwe. Kali ini saya tdk akan membawa kamera atau handycam krn saya ingin bebas menikmati alam dipagi hari. Yg saya bawa hanya tongkat Leki utk wandern yg kemarin dibelikan oleh uwe. Tongkat ini agak berat dari tongkat nordic-walking yg saya punya, hanya saja tongkat wandern ini mempunyai per didlm tabungnya dan bisa dipendek-panjangkan. Tujuan kita pagi itu adalah danau kecil di pertengahan belakang gunung Kranzberg.

Pintu kamar thomaspun saya ketuk, rupanya dia baru saja bangun tidur. Jadinya kita jalan keluar tanpa dia dan berjanji pada jam 9 nanti bertemu saat sarapan pagi. Weleh²...udara diatas bukit ini benar² dingin, utk jalan beberapa meter dgn posisi menanjakpun membuat ritme nafas kita senin-kamis. Untung saza saya dibantu dgn tongkat jadi agak lumayan lancar. Kasihan yayangku hrs berhenti sebentar krn beban 2 kamera di bahu (wong sdh dikasih tahu tetap bandel siiyyy).

Di sebuah pohon yg cukup besar menggantung beberapa bentuk rumah²an imut tempat makan burung² liar dimusim dingin. Saat kita tiba bbrp bajing yg sedang bermain dan melompat langsung melarikan diri ke atas pohon. Bentuk mereka agak kecil, berbulu hitan dan didadanya berwarna putih. Kita berdiri disana cukup lama, menikmati ketenangan hutan, kicauan burung, suara cipratan air sungai dibawah bukit dan cicitan bajing yg mungkin kesal krn terganggung oleh kita. Baru deh disini saya merasa menyesal kenapa tdk membawa kamera.

"Zugspitze"

Saat sarapan pagi kita sempat ngobs dgn pemilik hotel, apakah loket kereta gantung ke arah Zugspitze ( dekat Eibsee - danau Eib ) tetap dibuka, berhubung pagi itu walaupun udaranya cerah tetapi hembusan anginnya cukup kuat. Kita memperkirakan hari itu Zugspitze akan banyak pengunjungnya, baik turis biasa, para pecinta ski maupun snowboarder. Apalagi pagi itu matahari bersinar sgt ramah dan juga weekend. Pemilik hotel menyarankan, jika tempat parkir di stasiun kereta Eibsee penuh, sebaiknya kita naik Zahnrad ( kereta khusus utk naik kearah gunung ) dari desa Grainau.



Benar saza saudara²...rupanya tempat parkir loket Zugspitze-Eibsee fully booky padahal arealnya sangat luas. Pantesan aja kira² 1 km sebelum stasiun Eibsee saya melihat banyak mobil yg parkir dipinggir jalan. Rupanya mereka tdk mendptkan tempat lalu parkir disana truz jalan kaki yg lumayan jauh ke arah loket/stasiun Eibsee. Uwe jadi kehilangan semangat melihat situasi ini krn dia tdk suka berkunjung ke tempat yg penuh dan ramai, selain itu ceritanya malez ngantri ( lah...namanya juga lokasi turis Pak!). Saya berusaha utk membujuknya dan menjanjikan utk membelikan tiket naik kesana. Setelah diskusi yg agak alot, kita memutuskan utk naik Zahnrad dari kota Grainau ke arah Zugspitze Glacier (tempat utk main ski). Nanti kalau kita ingin melihat puncak Zugspitze bisa lanjut dgn naik kereta gantung.

Saya memang sdh bbrp kali berkunjung ke Zugspitze hanya saja bukan di musim winter, selain itu saya juga belum pernah main ke Glacier-nya ( wong dibuka hanya dimusim winter aja sih ). Sebagai informasi bhw Zugspitze itu gunung yg tertinggi di Jerman ( hampir 3000 meter) dan nomor 2 di Eropa setelah Mountblanc.
Perjalanan dgn Zahnrad memakan waktu cukup lama apalagi disetiap stasiun dia berhenti ( cuma 3 stasiun sih ). Tp kita juga hrs mengerti bhw kereta ini bukan kereta expres melainkan kereta khusus utk naik ke atas gunung. Dahulu saya naik ke arah Zugspitze dgn menggunakan kereta gantung, ada rasa ngeri saat melihat kearah bawah krn gunung² berbatu siap menanti kereta yg jatuh. Jadi perjalanan dgn Zahnrad ini adalah pengalaman pertama saya. Ah...ya, ternyata harga tiket naik ke atas gunung dimusim winter lebih murah dari pada musim² lainnya.



Akhirnya sampai juga kita di Glacier ini, para pemain ski maupun snowboard dgn sepatunya yg cukup besar dan berat terdengar sangat ribut. Sinar silau pantulan dari salju menyambut kita keluar dari stasiun permainan ski. Pemandangan disekitarnya jangan ditanya... Subhanallah...benar² exciting and amazing . Saya hampir lupa utk mengambil fotonya. Pemandangan yg giant ini rasanya lebih indah jika anda melihatnya dgn mata kepala sendiri, sulit utk diungkapkan dgn sehelai foto atau untaian kata². Saya berjalan mengikuti langkah hati dan kaki meninggalkan thomas dan uwe yg asyik mengobrol. Ditempat tertentu saya berdiri dan tertegun melihat keindahan alam ini. Tiba² ada getaran tertentu didlm hati, saya tarik nafas dalam² agar tdk mengeluarkan airmata. Saya terkadang bisa menangis jika melihat pemandangan alam yg giant dan sangat indah, saat itu bisa saya rasakan betapa kecilnya kita manusia. Beberapa saat kemudian, saya tersenyum sendiri ketika melihat anak² maupun org dewasa (biasanya turis dari asia) yg asik bermain bola² salju, meluncur dgn sehelai papan plastik dari atas bukit atau ada yg menelpon teman,saudara maupun ortu utk berbagi kabar gembira bhw mereka sedang ada di Zugspitze. Dibawah sana saya lihat danau Eibsee yg membeku. Saya berharap semoga salju² yg ada di Zugspitze ini bisa bertahan cukup lama.



Menjelang siang kita masuk ke resto kaca utk mengganjal perut. Saya memilih salad dgn daging bebek goreng sedangkan uwe dan thomas lebih memilih sup. Rasa makanan di resto ini ternyata enak. Setelah itu kita memutuskan utk melihat hotel iglo (Iglodorf) yg letaknya agak ke atas bukit. Hotel yg dibangun dari ice dan bisa ditempati ttp katanya hrs booking jauh² hari. Saat keluar dari resto, tiba² uwe berkata bhw kepalanya terasa pening. Dia memaksakan utk berjalan bbrp meter ttp akhirnya dia membatalkan dan memutuskan utk turun dari gunung Zugspitze. Rupanya uwe terkena penyakit gunung, dimana jumlah oksigen semakin tipis jika gunung itu semakin tinggi (agak susah utk bernafas). Apalagi saat ini musim dingin, kelembaban udara juga rendah alias kering. Padahal dulu uwe tdk mengalami hal spt ini saat berada di puncak Zugspitze. Tetapi sptnya
situasi digunung itu sering berubah dari musim ke musim. Saya dan thomaspun merasakan sedikit apa yg uwe rasakan. Oleh krn itu saya berusaha utk mengatur nafas dan gerakan, agar tdk terlalu memforsir tenaga.



Setelah itu kita memutuskan utk naik ke puncak Zugspitze dgn kereta gantung. Hanya dlm waktu hitungan menit, kita sampai di balkon puncak gunung tertinggi Jerman-Austria, yap gunung Zugspitze ini terletak tepat diperbatasan 2 negara. Kita disambut oleh hembusan angin dingin yg cukup kencang. Di beberapa sudut kita bisa membaca peta ttg nama² gunung disekitarnya. Berhubung cuaca yg cukup cerah, kita bisa melihat pemandangan yg amat sgt jauh, misalnya beberapa gunung di italia dan swiss atau melihat kota Münich. Katanya sih kalau lagi cerah kita bisa melihat pemandangan sejauh 200 km....menakjubkan bukan.

"Badersee"


Setelah puas melihat pemandangan Zugspitze dan sekaligus utk relaks, kita menuju kearah Badersee, yaitu sebuah danau alam yg bentuknya kecil, mempunyai air yg jernih dgn warna air biru kehijauan dan dipenuhi dgn ikan forelle serta bebek² liar. Dahulu saya pernah membaca papan pengumuman bhw dilarang utk memancing ikan didanau ini, jika tertangkap dikenakan denda sebesar € 500 ( dendanya mahal sekalee hanya utk bbrp ekor ikan saza ). Saya senang dpt melihat danau ini kembali, sayangnya loket utk meyewa perahu sdh tutup jadi kita tdk bisa berperahu ke tengah danau. Jika dilihat dari pinggir sptnya danau ini cukup dangkal tetapi menurut keterangan bag terdalam dari danau ini adalah 18 meter.



Uwe dan thomas memilih berjalan mengitari danau sedangkan saya lebih memilih utk beristirahat. Malam harinya kita makan diresto ditepi danau ini. Rasa makananya sangat enak terutama ikan gorengnya.





Freitag, 7. März 2008

Mittenwald - hari II

"Mittenwald"

Pagi itu kita sarapan dgn hidangan berbagai jenis roti yg masih panas serta teman²nya. Ini yg saya suka dari hotel ini, kita selalu mendptkan roti yg masih panaz. Thomas datang agak sedikit terlambat krn ternyata dia pagi² sekali sdh naik dan turun dari atas gunung Kranzberg, tanpa Sessellift (buka jam 9 pagi)....bravo thomas.
Kita sarapan dgn tenang sambil mendengar cerita thomas yg baru saja turun gunung. Bisa saya bayangkan betapa tercekik dada ini kalau pagi² dimusim dingin lalu melakukan olahraga naik gunung, apalagi kalau kita jarang melakukan olahraga. Tp saya jadi penasaran juga siy...dan menantang dia utk sama² pergi esok pagi.



Setelah sarapan, kita pergi menuju kota Mittenwald, thomas ingin mencari salon ceritanya dia mo potong rambut, uwe ingin cari apothek, sedangkan saya ingin cari kantor pos. Saya mengenal sudut pusat kota Mittenwald krn sdh beberapa kali pergi ke sini, makanya kita ber3 berpisah. 1 jam kemudian kita bertemu lagi dan sama² menjelajahi kota kecil ini. Menurut ramalan cuaca katanya siang hari suhu akan hangat sekali antara 12-15°c, alamaaakkkk....ini mah bukan musim winter. Saya melihat banyak cafe sdh meletakkan kursi dan mejanya dipinggir jalan. Banyak pengunjung duduk disana sambil makan atau minum dan menikmati sinar matahari. Demikian juga dgn kita yg sdh capek mengitari kota ini dan cacing diperut juga sdh protes minta makan siang, akhirnya duduk di cafe jalanan ini.


"Partnachklamm"

Setelah itu kita cabut dari Mittenwald menuju Partnachklamm yg berada dikota Garmish-Patenkirche (G-P). Partnachklamm adalah semacam jurang yg dipinggir dasar jurangnya ada jalan kecil utk menelusuri aliran sungainya yg cukup deras. Saya pernah melihat di sebuah website, betapa menakjubkan saat musim winter jalan di Parnachklamm krn kita bisa melihat ice-ice yg bentuknya spt stalaknit teruntai dan membeku. Terkadang panjang ice bisa mencapai 20 meteran. Saya pernah ke Partnachklam tetapi dimusim semi, airnya mengalir dgn sgt deras tetapi tdk ada ice yg membeku.



Kita Parkir didepan stadion ski kota G-P, byr tiket parkir yg ternyata hari itu sedang rusak (aciiik...gratis euy). Entah kenapa kita justru malah masuk ke dlm stadion yg saat itu sedang ada kegiatan. Banyak truk² besar yg keluar masuk stadion dan mengangkut salju. Truk tersebut berasal dari kota Seefeld-Austria. Nah...ada apa ini, kok kota G-P mengimpor salju dari negara tetangga siiiyyy..??? Ternyata distadion ini akan diadakan kompetisi Snowboard, tetapi berhubung di sekitar kota ini sdh tdk ada saljunya, jadinya mereka mencari dari kota lain. Selain itu juga dibeberapa sudut stadion berdiri mesin² pembuat salju. Menyedihkan ya.......mungkin entah kapan kota² dan gunung² di sekitar Alpen akan kehilangan mahkotanya (salju). Bisa kita lihat sendiri dari tahun ke tahun salju mulai menghilang.




Dari situ kita jalan menuju papan pengumuman ttg Partnachklamm yg rupanya sedang ditutup, padahal menurut informasi dari seorg turis 2 hari yg lalu masih dibuka. Karena sejak 2 hari suhu benar² hangat jadinya ice-ice yg ada sdh mulai mencair dan ini bisa berbahaya bagi para turis. Oleh krn itu pihak yg berwenang menutup jalanan ini. Hiks...hiks..hiks...sedih deh, padahal saya ingiiiiin sekali melihat pemandangan yg indah itu. Truz...kita mendapatkan informasi lagi katanya jembatan yg berada di atas jurang ini ( Eisenbrücke ) dibuka. Ada semangat sedikit deh, lalu kita berjalan menuju arah loket Lift yg jaraknya lumayan jauh (klo kalian malez jalan bisa naik kereta kuda).
Saya tdk mau naik kereta kuda krn lebih suka menikmati pemandangan disekitarnya walopun beban berat didlm tas ini (saya bawa kamera dan handy-cam). Utk naik ke atas, para turis bisa menggunakan lift kecil atau jalan kaki (butuh waktu antara 2-2,5 jam). Berhubung hari itu kita sdh cukup olahraga jalan kaki, lalu kita putuskan utk naik lift saja.




Diatas bukit ada sebuah hotel dan cafe yg lumayan besar, kita bisa istirahat sebentar utk menikmati pemandangan yg indah ini atau juga bisa makan dan minum, apalagi cuaca hari itu sangat bagus. Kita sempatkan utk minum dicafe sambil mencari informasi yg lebih jelas dari pegawainya. Ternyata o ternyata jalan menuju jembatanpun juga ditutup, krn salju yg mencair mulai berubah menjadi ice yg licin yg berada disepanjang jalan setapak. Lagi² kita bertiga agak kecewa dgn situasi ini. Tp kita tdk patah semangat, thomas mengambil inisiatif utk melihat dan mengecek jalan ke arah jembatan (kalo mo ke arah Partnachklamm kita hrs jalan kaki lagi, kira² 20-30 menit).



Jalan menuju Partnachklamm

Ada sepotong kayu yg melintang ke arah jalan Eisenbrücke, yg berisi larang utk menggunakan jalan tersebut. Tp thomas menerobos saja dan hati² berjalan melalui ice yg licin. Rupanya tunggu punya tunggu thomas tdk balik ke atas utk memberikan informasi kpd kita. Saya dan uwe menunggu didepan papan peringatan. Kita sempat mendengar beberapa kali suara dari ice yg jatuh ke dlm sungai . Tiba² kita melihat seorg pria baru saja datang dari arah Eisenbrücke. Saya lihat org tersebut memakai sepatu khusus (profi) dan mengatakan bhw jalan ke bawah sana agak berbahaya dgn sepatu yg kita pakai. Syebel deh rasanya menunggu thomas yg tdk ada beritanya....truz tiba² kita melihat 2 org ibu dan 2 org anaknya yg baru saja muncul. Mereka memakai sepatu khusus hiking ttp 1org perempuan saya lihat model alas sepatunya sama dgn saya. Krn rasa keingintahuan yg tdk bisa saya tahan, saya mencoba utk turun ke bawah walaupun uwe sempat berteriak melarang saya. Embeerrr...jalanannya benar² licin bow...


Dipertengahan jalan saya bertemu thomas dan sempat komplain krn tdk memberikan kabar kpd kita. Tp saya memohon kpd dia utk menemani jalan kebawah sana. Tadinya thomas tdk mau krn jalanan yg cukup licin. Saya berjalan spt anak bayi yg baru belajar berjalan dgn berpegangan pada kayu yg ada disepanjang jalan (spt treppegelände). Sesekali saya tergelincir, tp alhamdulillah sampai juga saya di Eisenbrücke ini. Kalian bisa lihat foto Eisenbrücke dgn mengklik website Partnachklamm musim winter, soale utk memoto jembatan ini lebih baik dari bawah. Selain itu syuseh utk moto pemandangan dari atas jembatan ini.


Setelah puas menikmati pemandangan sekitarnya, kita memutuskan naik keatas. Cukup puas juga saya dgn perjalanan hari ini walaupun tdk bisa masuk ke Partnachklamm dimusim winter thn ini (coba klik disini). Mudah²an saya masih punya kesempatan utk melihat keindahan alam ini lagi.


Saat waktunya makan malam kita pergi ke pusat kota Garmish-Patenkirche. Jalan² sebentar dipusat kotanya. Setelah tanya seseorg resto mana yg sebaiknya kita datangi, akhirnya kita masuk ke sebuah resto dgn design tradisional Bayern. Meja panjang dgn kursi berjejer mirip meja prasmanan, dimana hampir disemua meja sdh tertulis tanda reservasi. Baru ingat bhw malam itu malam minggu dan diresto spt-nya akan ada acara. Kita tanya kpd kepala pelayan apakah bisa makan disitu, ternyata boleh tetapi hanya sampai jam 20:00 saja. Para pengunjung juga masih sedikit jd meja² kosong masih bisa digunakan. Saya lihat ada panggung kecil dekat meja kita dan 2 org pemusik dgn pakaian tradisional Bayern sdg mempersiapkan alat musiknya. Saya suka dgn interior resto ttp tdk suka dgn service resto yg menurut saya kurang ramah. Seorg wanita tua yg bersanggul dan berpakaian sgt rapi dan bermake-up (saya rasa itu adalah pemiliknya) menyajikan sup utk thomas tanpa keramahan dan etiket. Belum pernah saya melihat pelayanan sejelek itu selama berliburan di Jerman krn setahu saya utk menjadi pelayan hrs melalui pendidikan dan praktik terlebih dahulu. Sangat disayangkan, sebuah resto tradisional dgn kwalitas pelayanan spt itu. Selain itu masakannya juga nggak enak. Pech gehabt !!!


Ciri khas benderanya org Bayern biru dan putih. Selain itu banyak rumah yg dicat dgn berbagai lukisan baik yg bermotif cerita ttg keagamaan, kegiatan penduduk sekitarnya atau kerajaan tempo doeloe.





Ps: foto² akan ditambah sedikit, akan saya ambil dari hasil jepretannya uwe (itu juga kalau diizinkan sama yg punya).