Keesokan paginya setelah sarapan, kita lanjut acara dgn berpetualang di sekitar kota Brussel, kita memutuskan utk berjalan kaki. Peta kota Brussel sdh ditangan, kita mencoba utk mempelajarinya sebentar dan los...!!!. Acara pertama diarahkan ke daerah Marollen, katanya setiap wiken ada Flohmarkt (pasar brg bekas, ternyata di bbrp sudut kota ini selalu terdpt Flohmarkt, hanya saja yg di Marollen ini adalah yg terbesar). Kita berusaha mencari jalan yg sedekat mungkin (1,5 km). Kebetulan kita melalui daerah yg cukup menarik spt bangunan Palace de Justice dgn bentuk bangunannya yg sgt giant. Kemudian diseberang jalan ada sebuah monumen yg cukup tinggi dan berbentuk bbrp patung tentara, ttg peringatan perang dunia I. Ternyata letak bangunan ini diatas sebuah bukit jadi kita bisa melihat pemandangan sebagian kota Brussel dari atas sini. Sayang pemandangan ke bawah sana tdk menarik, mungkin ini efek samping dari perang dunia dan juga situasi perkembangan kota. Dari situ kita bisa turun dgn lift.
Flohmarkt yg kita lihat ukurannya termasuk sangat besar, banyak brg tua/bekas yg dijual, mulai dari keramik, baju/mantel bekas hingga furnitur. Tak jauh dari Flohmarkt terdapat sebuah jalan yg sgt panjang dimana disepanjang jalan ini banyak berdiri toko² brg antik dan unik. Dari situ acara kita lanjut menuju ke pusat kota Brussel, yaitu Grand Place. Kita berjalan kaki sejauh 1,5 km, mengikuti rute peta ditangan. Kita tiba di bagian selatan dari pusat kota, dimana disitu berdiri Patung Männeken Piss. Menurut saya patung ini tdk terlalu special tp entah kenapa sgt terkenal dan menjadi maskot kota Brussel. Sebuah patung anak kecil , tingginya sekitar 60 cm dan sedang pipis. Original patung adalah telanjang, ttp sekarang patung tersebut diberi pakaian dan topi (pakaiannya sering berganti-ganti). Kita tdk tertarik utk memotonya apalagi pojokan kecil itu dipenuhi para turis yg ingin memoto dan beraksi didepan patung. Tp jika kalian ingin melihat bisa klik disini. Disamping patung dan diseberang patung byk terdapat toko coklat dan praline. Yap.....kita ketahui bhw negara Belgia terkenal dgn hasil olahan coklat dan praline-nya.


Salah satu keinginan saya datang ke Brussel adalah ingin melihat toko praline "Neuhaus" dimana praline ini pernah menjadi favorit saya. Tadinya saya berpikir bisa berkunjung ke toko dan melihat cara pengolahannya ( spt Bernard's Castelain praline di Chateauneuf du Pape atau Mazet di Chamberry-P'cis), rupanya tidak bisa euy...mereka hanya menjual saja. Kepala saya agak pening melihat byk-nya toko praline di setiap sudut jalan yg saya lalui, mulai yg dari harganya mumer hingga yg mahal. Spt kebanyakan pusat kota turis, byk toko²menjual brg²nya agak berbau komersial. Maksudnya, kwalitas tdk terlalu diperhatikan (krn biasanya para turis mempunyai suasana hati yg gembira saat berkunjung kesana) sehingga suka lengah dlm mencari oleh². Oleh krn itu saya sarankan, jika anda ingin membawa praline sbg oleh², coba beli hanya bbrp potong saja, kemudian dicicipi. Jika ingin mudahnya anda bisa membeli praline yg sdh punya nama ( spt: marcolini, neuhaus, galler, godiva,wittamer, dll) atau gunakan insting anda saat melihat brgnya.

Pemandangan di sekitar Grand Place menurut saya sgt menarik, bangunan tua dan besar yg penuh ornamen masih berdiri dgn megah dan kokoh. Tempat ini merupakan salah satu magnet dari kota Brussel. Saya sgt menikmati suasana ini, dimana pagi itu blom byk turis yg datang sehingga bagi yg ingin berfoto ria bisa berakting dgn bebasnya. Setelah puas putar² di sekitar Grand Place dan sudut²nya, saya memutuskan ingin melihat toko praline "Pierre Marcolini" didaerah Grand Sablon (kira² 1 km ke arah tenggara dari Grand Place). Menurut buku panduan yg saya miliki, katanya praline dari P Marcolini ini adalah salah satu yg terkenal dan terbaik di Brussel. P Marcolini pernah berguru kpd Wittamer seorg maitre chocolatier-confiseur terkenal dari Brussel. Setelah cukup menimba ilmu, P Marcolini kemudian mendirikan toko sendiri yg letaknya tdk jauh dari toko Wittamer. Interior toko praline P Marcolini ini lain dari pada yg lain, menurut saya agak mirip butik , serba gelas dan didominasi warna hitam. Di etalase kita bisa melihat berbagai macam design coklat, tart mungil dan desert yg sgt cute dan menarik. Saya suka dgn toko ini dan sempat beli 1 kotak utk dibawa pulang (dibeliin deh sama uwe). Sayang saya tdk masuk ke dalam toko Wittamer hanya melihat dari luar saja. Sepertinya hari itu cukup dgn acara melihat coklat, kasihan uwe yg sdh mau mengerti dgn keinginan saya.


Kemudian kita memutuskan utk berjalan menelusuri sudut lain kota Brussel dan mampir ke Royale Museums of Fine Arts di Place Royale Koningsplein, iseng masuk kesana, sekalian istirahat (ada cafeteria-nya) dan menghangatkan badan. Museum ini mempunyai aula yg sgt besar ada 4 pintu menuju ruangan museum yg lain (utk masuk kesana hrs membeli tiket). Di bbrp sudut terpasang lukisan yg sgt giant, atapnya sangat tinggi dan bermotif antik. Rupanya didlm museum sedang ada pameran lukisan Rubens. Jujur....saya tdk kenal siapa Rubens, uwe tahu sedikit ttg pelukis ini dan tertarik utk melihatnya. Saya merasa agak lelah dan tdk terlalu tertarik utk melihat lukisan dan memutuskan utk duduk di aula museum ini.



Salah satu kreasi pelukis RubensHari menjelang senja, rencana terakhir adalah mencicipi french fries alias kentang goreng yg asal muasalnya dari Belgia. Dari berita yg saya baca, katanya salah satu kentang goreng yg terbaik di Belgia adalah kentang goreng Maison Antoine yg terletak di Place Jourdan (2 km). Saya ingin pergi kesana, penasaran...spt apa sih rasanya. Uwe sdh mulai uring²an krn jarak yg akan kita tempuh cukup jauh hanya utk makan kentang goreng. Dia ingin naik taksi tp saya larang. Sebenarnya utk menjelajahi kota Brussel, para turis bisa menyewa sepeda loh. Tp saya sih tdk mau deh ah, nggak ku-ku la yau, soale jalannya sering naik turun (berbukit), lebih baik jalan kaki aza. Untungnya jalan menuju kesana pemandangannya cukup menarik (melewati Parc du Bruxelles, gedung Parlemen, melihat seorg penting dari Brussel yg sedang diwawancarai oleh bbrp reporter tv, dll), jd jarak yg cukup jauh tdk terlalu terasa. Kita sempat berjalan kaki kejauhan krn saya salah baca peta, untungnya uwe nggak protes sbg gantinya saya traktir uwe makan kentang goreng.


Rupanya Maison Antoine itu cuma sebuah kios kecil yg berdiri disebuah taman kecil didaerah perumahan. Walaupun hari sdh menjelang sore, saya melihat masih byk org yg mengantri utk makan kentang goreng ini, baik penduduk setempat, polisi maupun bbrp org turis. Saya pesan 2 porsi kentang goreng plus mayonesse (mereka punya byk jenis saus ) dan 2 potong croquettes de crevettes (kroket kentang-udang yg dicampur dgn keju, rasanya lumayan enak). Menurut kita berdua, rasa kentang goreng ini biasa aja, tdk crispy spt kentang goreng lainnya. Saya pernah makan kentang goreng enak di Amsterdam atau di kota tempat tinggal saya ada kentang goreng yg lebih enak dari Maison Antoine. Saya tdk mengerti kenapa The New York Times pernah memberikan predikat kentang goreng ini sbg kentang goreng terbaik. Yah...tp ini mungkin cuma masalah perbedaan selera. Kita istirahat sebentar ditaman ini sambil menikmati suasana sore dgn anak² penduduk setempat. Setelah itu kita balik menuju hotel...weleh²...jalanan sdh mulai gelap, tambah susah deh baca petanya. Besok kita cabut ke arah Brugge.

Ps: semua foto dijepret oleh uwe...sowy...bukan daku.
Keine Kommentare:
Kommentar veröffentlichen